The SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah (Journal of History Education and Historical Studies), with ISSN 2302-5808, was firstly published on March 24, 2013. Since issue of September 2013, it has been organized and sponsored by the Lecturers of APB UBD (Academy of Brunei Studies, University of Brunei Darussalam) and the Lecturers of History Program FASS (Faculty of Arts and Social Sciences) UBD in Bandar Seri Begawan, Negara Brunei Darussalam and published by Minda Masagi Press as one of the publishers owned by ASPENSI (Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung, West Java, Indonesia.

Foreword, Sambutan, dan Prakata

FOREWORD for
SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah
(Journal of History Education & Historical Studies)
Volume 2(2) September 2014

04.ampuan.ubd

Assoc. Prof. Ampuan Dr. Haji Brahim bin Ampuan Haji Tengah
Editor-in-Chief of the SUSURGALUR Journal; and
Director of APB UBD (Academy of Brunei Studies, University of Brunei Darussalam)

The SUSURGALUR journal currently, issue of September 2014, contains the articles from scholars of Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Thailand, and the Philippines. It is interesting and encouraging us, as editorial board, to enhancing the quality of journal so that, for forthcoming issues, it will be filled by scholars’ article from Southeast Asian countries and around the world. Reading the articles from many countries is trying to learn more based on the real experiences as well as historical entities so that we, as human mankind, are able to share and care together in the context to upgrade our wise in the everyday life.

The article from Brunei Darussalam, for example, one again exposing why this country rejected to joining with the Federation of Malaysia in 1960s. There are many factors, to be understood, not only the Brunei Sultan’s ranking among the Malay rulers would be the lowest, based upon the date of joining the council of rulers and not from the time he ascended the throne; but also, as shown in the article, the Brunei Sultan wants to safeguard and strengthen the power of the monarch and the monarchy, as well as the Bruneian Malays, the Islamic religion, and the oil revenues. In other word, related to the Brunei oil, the Sultan would not surrender its oil wealth to the Federal government of Malaysia because that would leave it with nothing, since Brunei’s economy depended on its oil revenues.

The article from Indonesia is also important to learning more based on the historical experience of other countries, especially from Irak in Middle East. Certainly, the outside forces were frequently invading, and even occupy, parts of Iraq is not a new phenomenon considering, among other things, strategic position and sublime civilization and wealth of natural resources owned by Iraq. So, in a historical perspective, the United States and Britain could be argued that they want to inflict punishment against Saddam Hussein so that they invaded and occupied Iraq. But behind the invasion of Iraq, they have had interests to mastery of rich natural resources, especially oil. And the United States – as a powerful country – seems to want also to give lessons for other countries in the world in order not to mess with Uncle Sam’s country if they do not want to be punished like Saddam Hussein of Irak as happened in 2003.

Meanwhile, Malaysian scholars are very productive in writing the articles and published by the SUSURGALUR journal. It means that the academic environment is very conducive to push the scholars done the research and to disseminate their findings in order it can be read as well as accessed by the public. We can also learn more about this good academic atmosphere from the higher education institution in Malaysia. Related to the issue of SUSURGALUR journal, Malaysian scholars have analyzed and elaborated the historical phenomena such as: the development of women magazine in 1980s; the genetic approach in historical studies; the overseas Chinese diaspora communities to Malaya; about the Sulu Sultanate in the East Coast of North Borneo; and the activities of “dakwah” (preaching) and education in Terengganu, Malaysia.

The article from Thailand is very critical due to pertaining about the roles and relationships between state, society, and university in China. It highlights how these three main stakeholders have responded to their environments by emphasizing the role of universities. The article provides also a general overview of the role of higher education in the Chinese society, and its responses towards other stakeholders and changes in its environments from the past to the present. From the perspective of chronological history, the analysis of the evolution of Chinese higher education is based upon the premise that these three main stakeholders, state, society, and university, embedding in their own socio-cultural underpinning factors have to respond to changing environments.

And last but not least, the article from the Philippines informs us again about the important thing in learning history. Historical knowledge, with the current trends in education, has been contested. Also teaching history within the classroom has been challenged due to the question of practicality of historical knowledge. Some cynics argued that historical knowledge will not provide much help, especially in solving pressing issues and problems. What do we expect to reap if we teach history? This assumption about history’s impractical knowledge resulted to the relegation of the study of the past to the margins. Likewise, teaching history has not merited the prestige of the so-called “usable subjects”. Thus, rethinking history’s practicality and the usability of such knowledge should be incorporated with the teaching of the subject.

Finally, I hope and believe that researchers and scholars of history and history education from Southeast Asian countries and around the world will also be able to utilize the SUSURGALUR journal as a medium to disseminate the latest findings. Do enjoy reading the SUSURGALUR journal and hopefully you will derive much benefit from it.

Bandar Seri Begawan, 22nd September 2014.

SAMBUTAN untuk
SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah
Volume 2(2) September 2014

01.andi.kopiah.bunga

Andi Suwirta, M.Hum.
Ketua Umum ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia); dan
Dosen Jurusan Pendidikan Sejarah UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Setiap generasi berhak untuk menulis sejarahnya sendiri. Inilah esensi mengapa sejarah itu terus berubah dan tafsir terhadapnya juga, tentu saja, berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman. Namun, bagaimana generasi muda bisa memahami sejarah bangsanya sendiri sebagai identitas dan karakter khas, yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain dunia? Di sinilah pentingnya memahami perkembangan disiplin ilmu sejarah dan historiografi, atau sejarah tentang penulisan sejarah, sebuah negara-bangsa di Asia Tenggara dan di dunia.

Memasuki abad ke-21, saya pernah menyatakan bahwa mungkin analogi yang relatif tepat untuk menggambarkan perkembangan disiplin Ilmu Sejarah dan Historiografi adalah seperti layaknya seseorang yang sedang mendaki sebuah gunung.  Sambil naik, setahap demi setahap, pelan namun pasti, lalu sekali-kali bolehlah berhenti sejenak untuk menengok ke bawah: sudah seberapa jauh langkah perjalanan yang telah ditempuh dan pemandangan apa yang nampak dari kejauhan. Jika langkah yang pertama untuk menunjukkan adanya tahap-tahap perkembangan disiplin Ilmu Sejarah, dari dahulu sampai sekarang; maka langkah yang terakhir adalah semacam refleksi untuk melakukan evaluasi diri terhadap “jalan yang telah ditempuh” oleh disiplin Ilmu Sejarah itu.

Saya pikir setiap negara-bangsa di dunia, termasuk negara-negara di Asia Tenggara, perlu mencermati perkembangan disiplin Ilmu Sejarah dan Historiografinya masing-masing. Sudah seberapa jauhkah perkembangan Ilmu Sejarah mereka sejak zaman “bahari” (dahulu) hingga “kiwari” (sekarang)? Bagaimana pula dengan perkembangan Historiografi – baik dalam pengertian “penulisan sejarah” maupun “sejarah tentang penulisan sejarah” – dari waktu ke waktu? Dua pertanyaan pokok itu, pada gilirannya, akan melahirkan semacam retrospeksi, yakni sebuah kesadaran di kalangan sejarawan sendiri – baik sejarawan akademik maupun sejarawan pendidik – untuk mencermati dan meyakini bahwa Ilmu Sejarah itu bukan hanya sebagai disiplin ilmiah, tetapi juga sebuah panggilan dan suratan hidup bagi siapa saja yang mau menggeluti dan memilih kariernya sebagai sejarawan.

Jurnal SUSURGALUR ini, saya rasa, adalah media yang tepat dan relevan untuk membangun kembali wacana secara kritis terhadap dua masalah yang saya kemukakan di atas: perkembangan disiplin Ilmu Sejarah dan Historiografi setiap negara-bangsa. Perkembangan terkini disiplin Ilmu Sejarah adalah saling mendekati dan melengkapi dengan disiplin ilmu-ilmu lainnya, sehingga dalam menuliskan hasil kajian sejarah pun bersifat interdisipliner dan multidimensional. Bahkan dalam usaha untuk merekonstruksi apa-apa saja tentang masa lalu, kini didekonstruksi ulang untuk menguji dan memahami bahwa bangunan sebuah Historiografi tidaklah berada dalam ruang yang hampa budaya dan tidak kedap pula dari berbagai kepentingan.

Menulis sejarah adalah mencipta masa lalu untuk kepentingan sekarang dan masa yang akan datang. Walaupun masa yang akan datang adalah “terra in cognita” atau wilayah yang tak berpeta, tapi dengan mengkaji masa lalu akan ditemukan pola dan kecenderungan yang ajeg, yang bisa dijadikan pedoman untuk masa-masa selanjutnya. Belajar dari sejarah berarti juga adalah memahami secara bijak pengalaman orang lain dan bangsa lain, baik dalam dimensi ruang dan waktu yang lalu maupun kekinian. Sekiranya orang lain dan bangsa lain itu maju atau mundur karena faktor-faktor x dan y, tentu saja kita akan memilih jalan x dan menghindari jalan y tersebut. Inilah makna sejati dari “historia magistra vitae” atau sejarah adalah guru kehidupan.

Menulis sejarah adalah juga masuk dalam ranah seni dan rasa. Karenanya, bahasa mejadi faktor penting untuk mengekspresikan rasa dan seni dalam bercerita. Bahasa nasional, dalam konteks memperkuat jatidiri dan karakter bangsa, jelas merupakan strategi kognitif yang tepat untuk mengekspresikan rasa dan jiwa bangsa melalui karya sejarah. Bagi banyak negara-bangsa di Asia Tenggara, termasuk di dunia, yang umumnya memperoleh kemerdekaan pasca Perang Dunia II (1939-1945), maka kebutuhan untuk menuliskan kembali sejarah yang bercorak nasional sentris merupakan keniscayaan. Namun, karya historiografi yang melulu ditulis dalam bahasa nasionalnya masing-masing adalah satu hal, untuk kepentingan ke dalam. Untuk kepentingan ke luar, saya kira, perlu juga sekali-kali menuliskan hasil-hasil penelitian sejarah sebuah negara-bangsa itu dalam bahasa bersama atau “common language” agar bisa dibaca, difahami, dan dikases oleh banyak kalangan.

Akhirnya, selamat membaca artikel-artikel dalam jurnal SUSURGALUR yang multi bahasa ini dengan dibarengi oleh sikap yang jembar, jujur, dan terbuka, bahwa ukuran kemajuan sebuah negara-bangsa adalah dalam konteks kemajuan yang telah dicapai oleh negara-bangsa lainnya di dunia. Semoga ada manfaatnya.

Bandung, Jawa Barat, Indonesia, 23 September 2014.

PRAKATA untuk
SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah
Volume 2(2) September 2014

03.asbol.ubd

Prof. Madya Dr. Haji Awg Asbol bin Haji Mail
Pensyarah Kanan di Program Pengajian Sejarah, Fakulti Sastera dan Sains Sosial UBD (Universiti Brunei Darussalam); dan Ahli Sidang Pakar ASPENSI di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Sejarah memang mempunyai peranan yang sangat strategis. Penggalian dan penyelidikan semula ke atas dokumen-dokumen lama, sudah tentu, sangat membantu generasi penerus atau generasi muda bagi menemukan jatidiri masyarakat dan bangsanya. Sejarah ibarat kompas yang menunjukkan arah perjalanan sesuatu negara-bangsa. Ia juga selaku pengikat diri seseorang sebagai anggota masyarakat yang memahami budaya bangsa yang kukuh dengan “sense of history”. Pendidikan dan pengetahuan sejarah tetap penting; justeru itu, setiap perkara, sama ada ia merupakan suatu idea mahupun penciptaan ilmu yang berbagai disiplin, memang mempunyai sejarahnya tersendiri.

Sejarah sebagai satu mata pelajaran diharapkan mampu memberikan suntikan kepada pengembangan berbagai aspek kehidupan pelajar semasa di bangku sekolah, asalkan diajarkan dalam kaedah yang tepat. Kaedah pengajaran inilah yang menjadi masalah dan cabaran dalam memberikan pengajaran sejarah lebih berkesan kepada pelajar. Kononnya, pendidikan sejarah kurang berkesan kerana kelemahan dari segi penyampaian, apabila guru dikehendaki mengajar dan pelajar dikehendaki mengingat, kedua-duanya berlaku secara kaku. Guru juga biasanya mengetengahkan soalan, di samping itu menentukan jawapan. Pelajar tidak diberi kesempatan untuk menimbangkan dan mengkaji data bagi membuat kesimpulan sendiri.

Pandangan ini nampaknya juga dialami oleh Brunei apabila satu kajian pada awal kurun ke-21, ke atas guru-guru sejarah di sekolah menengah di negara ini, didapati bahawa lebih 80% dari mereka mengajarkan sejarah dengan hanya memberikan penerangan dalam bilik-bilik darjah tanpa berusaha untuk mencari satu kaedah yang baru, yang boleh menarik minat pelajar kepada pendidikan sejarah. Perkara ini juga diakui oleh seorang pegawai Jabatan Kenaziran, Kementerian Pendidikan Brunei, berdasarkan laporan yang diterima dari sekolah-sekolah. Menurut beliau lagi, memang terdapat sebilangan kecil guru yang terlalu bergantung kepada buku teks tanpa membuat rujukan yang lebih luas kepada buku-buku sejarah yang lain, tidak mempunyai kelayakan untuk mengajar mata pelajaran sejarah, tetapi keadaan memaksa mereka untuk mengajar mata pelajaran ini.

Bagaimanapun tidak semua masalah dan cabaran ini seharusnya diletakkan sepenuhnya kepada bahu tenaga pengajar, bahkan sikap pelajar dan ibu bapa juga memainkan peranan. Bagi pelajar, masalah bahasa juga menjadi halangan kepada memahami mata pelajaran sejarah kerana mulai darjah empat, sistem pendidikan Brunei menggunakan pengantar dalam bahasa Inggeris; jadi, penguasaan bahasa Inggeris adalah penting untuk memahami pelajaran, termasuk sejarah. Dalam pada itu, kebanyakan ibu bapa lebih suka anak-anak mereka ini mengambil mata pelajaran Sains, Matematik, dan Inggeris berbanding dengan mata pelajaran sejarah. Sikap inilah juga yang menyebabkan mata pelajaran sejarah kurang diminati, terutama dalam peringkat tingkatan empat ke atas. Bagaimanapun, Kementerian Pendidikan akan sentiasa berusaha untuk mengatasi cabaran dan kelemahan yang ada, kerana adalah disedari bahawa pendidikan sejarah mempunyai peranan dalam menanam nilai-nilai jatidiri bangsa Brunei di kalangan para pelajar.

Pendidikan sejarah pada peringkat paling asas mempunyai dua alasan untuk diajar di sekolah. Pertamanya, agar generasi belia mengenal pasti siapa mereka dalam sesebuah masyarakat. Ilmu sejarah diandaikan sebagai acuan asas kepada kehidupan generasi belia. Sesungguhnya, peristiwa silam akan memberi iktibar kepada segala tindakan kita pada masa akan datang. Keduanya, pendidikan sejarah diajar untuk menjalankan fungsinya sebagai mekanisme kawalan sosial. Alasan ini kadang-kala boleh ditafsirkan sebagai doktrin kerajaan ke atas rakyat. Contohnya, pelajar sejarah akan didedahkan dengan sistem politik sesbuah kerajaan bagi tujuan kesedaran patriotisme.

Sudah seharusnya pengetahuan sejarah itu dijadikan sumber kesedaran masyarakat dalam memupuk semangat baru bagi membaiki kelemahan, menilai kesilapan yang telah dilakukan oleh masyarakat lalu, serta ianya mampu memulihkan semula kekuatan moral dan mental bagi kemajuan individu, masyarakat, dan negara. Di sinilah pentingnya pengajian sejarah dan pendidikan sejarah dalam konteks Negara Brunei Darussalam, yang mengikut dan berasaskan acuannya sendiri, telah menempuh jalan senario sejarah bernegara dan beraja, iaitu MIB (Melayu, Islam, Beraja).

Akhir sekali, saya berhasrat agar jurnal SUSURGALUR ini boleh memainkan peranan sebagai wadah bagi mencetuskan idea dan dapatan terbaru yang boleh difahamkan oleh guru-guru dan pelajar-pelajar yang ada minat dan keseronokan dalam membaca karya-karya pensejarahan.

Bandar Seri Begawan, 24hb September 2014. 

Contents
SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah
Volume 2(2) September 2014

NANI SURYANI HAJI ABU BAKAR,
Brunei and the British Decolonisation Policy, 1950 – 1966.

HAMEDI MOHD ADNAN,
Penerbitan-penerbitan Majalah Wanita di Malaysia Dekad 1980-an.

MOHD SHOLEH SHEH YUSUFF,
Pengaruh Tafsir al-Baghawi dalam Tafsir Nur al-Ihsan: Satu Pendekatan Genetik.

WENSLEY M. REYES,
History Teaching, Thinking Development, and Transforming Society.

RUZAINI SULAIMAN @ ABD RAHIM,
Diaspora Komuniti Cina Seberang Laut ke Selangor di Tanah Melayu, 1896 – 1939.

ISMAIL ALI,
Kebijaksanaan Kesultanan Sulu dalam Mengurustadbir Sumber Ekonomi di Pantai Timur Borneo Utara, 1704 – 1878.

KREANGCHAI RUNGFAMAI,
State, Society, and University: Historical Context of Chinese Higher Education.

RAZI YAAKOB,
Sumbangan Tok Ku Paloh dalam Kegiatan Dakwah dan Pendidikan di Terengganu, Malaysia.

ANDI SUWIRTA & SRI REDJEKI ROSDIANTI,
Dimana Ada Gula, Disitu Ada Semut: Melihat Kembali Aksi Pendudukan Tentara Amerika Serikat terhadap Irak pada Tahun 2003.

UQBAH IQBAL, NORDIN HUSSIN & AHMAD ALI SEMAN,
The Historical Development of Japanese Investment in Malaysia, 1971 1980.

ABOUT THE SUSURGALUR JOURNAL:

susur galur 2-1 maret 2014 1

SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah (Journal of History Education & Historical Studies). This journal, with ISSN 2302-5808, was firstly published on March 24, 2013. Since issue of September 2013, the SUSURGALUR journal has been organized and published by Minda Masagi Press as the publisher owned by ASPENSI (Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung, West Java, Indonesia and the Lecturers of APB UBD (Academy of Brunei Studies, University of Brunei Darussalam) and the Lecturers of History Program, Faculty of Letters and Social Sciences UBD in Bandar Seri Begawan, Negara Brunei Darussalam.

SUSURGALUR journal provides a peer-reviewed forum for the publication of thought-leadership articles, briefings, discussion, applied research, case and comparative studies, expert comment, and analysis on the key issues surrounding the history education and historical studies, and its various aspects. Analysis will be practical and rigorous in nature.

SUSURGALUR  journal receives the manuscripts written in English as well as Indonesian and Malay languages. For sending the manuscript(s), encourage you to submit it via e-mail address at: susurgalur.jurnal2013@gmail.com and aspensi@yahoo.com

d.dinner.at.prof.asbol.house

Anggota Redaksi Jurnal SUSURGALUR dalam sebuah Acara Silaturahim di rumah Prof. Madya Dr. Haji Awg Asbol bin Haji Mail (duduk paling kiri) di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, pada bulan April 2013. “Kami bertekad untuk menjadikan SUSURGALUR ini sebagai jurnal ilmiah yang bertaraf, baik nasional maupun regional Asia Tenggara”, kata PM Dr. Asbol, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Redaksi Jurnal SUSURGALUR.

 

Read More