SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah (Journal of History Education & Historical Studies). Firstly published, with ISSN 2302-5808, on March 24, 2013, in the context to commemorate the BLA (Bandung Lautan Api or Bandung a Sea of Flames)’s Day in Indonesia. Since issue of September 2013 to date, the SUSURGALUR journal has jointly been organized by the Lecturers of APB UBD (Academy of Brunei Studies, University of Brunei Darussalam) and International & History Studies FASS (Faculty of Arts and Social Sciences) UBD in Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam; and published by Minda Masagi Press as a publishing house owned by ASPENSI (Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung, West Java, Indonesia. This journal is published every March and September. For further information about the SUSURGALUR journal, you are able to visit the journal website at:

Foreword, Sambutan, dan Prakata

SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah
(Journal of History Education & Historical Studies)
Volume 3(1) March 2015


Assoc. Prof. Ampuan Dr. Haji Brahim bin Ampuan Haji Tengah
Editor-in-Chief of the SUSURGALUR Journal; and
Director of APB UBD (Academy of Brunei Studies, University of Brunei Darussalam)

I am very pleased and delighted that SUSURGALUR journal has received a positive response from readers and writers who are interested in field of History of Education and Historical studies as well as field of other disciplines that are related to History and History Education. Fortunately, even though the field of disciplines of History and History Education is often considered less important compared to the field of other disciplines such as Sciences, Technology, Law, Medicine, Engineering, and even Economic, Social, and Political Sciences’ studies by the public, but its studies, researches and writings on History and History Education have been continuously conducted. Moreover, despite the insignificance, the public are constantly reading and disseminate it through publication.

In the March 2015 issue, majority of the articles in the SUSURGALUR journal were written by authors from Brunei Darussalam, Indonesia, and Malaysia. Indeed, this is such an honor and pleasure to have authors from three different countries (Brunei Darussalam, Indonesia, and Malaysia) to share their various knowledge, insights and academic experiences on issues that are related to the study of History and History of Education. Consequently, in my point of view, in order for us to strengthen our identity as a nation-state as well as to become a developed, prosperous, independent and civilized nation, we need to understand and learn other nation’s history and educational history. The variation of different nation’s historical processes will provide an awareness and comparison of progress and civilization in other nation-states in the world.

The articles written by Bruneian scholars mostly discussed on the folklore and history; intellectual property; and Chinese people’s perceptions about the business in Brunei Darussalam. The mentioned article were titled as “Images of Eggs and Chicken in Brunei Malay Community: Its Relationship with Folklore and History” (by Awang Asbol bin Haji Mail); “Intellectual Property: A Preliminary Study from Brunei Darussalam” (by Saadiah binti Datu Derma Wijaya Haji Tamit & Mohammad Rafee bin Haji Shahif); and “Perceived Effect in the Achievement of Chinese Traders in Brunei Darussalam” (by Malai Yunus Malai Yusof).

Meanwhile, the articles composed by Indonesian scholars focused on the importance of libraries in the virtual world; the figure of Franz Wilhelm Junghuhn; the link between general elections, mass media, and women; Indonesian planning towards the global era; as well as the concept of unity in diversity in education. It was titled as “Historical Context for Development Virtual Reading Room as an Innovation at the Indonesia Open University’s Library Services” (by Effendi Wahyono); “Priangan in the Life of Franz Wilhelm Junghuhn” (by H.W. Setiawan & Setiawan Sabana); “General Election, Mass Media, and Women: The Views of TEMPO and GATRA Magazines towards Megawati Soekarnoputri as a Presidential Candidate in Indonesia in 1999 and 2004” (by Agustina, Andi Suwirta & Moch Eryk Kamsori); “Development of Language Planning Goes to Globalization Era: An Evaluation from the Historical Aspect” (by Mohammad Asdam); and “Concept of Unity in Diversity in Indonesia: From Politic of Dinasty to Politic of Education” (by Mohammad Imam Farisi).

Whilst, the articles written by Malaysian scholars touched on the history of education and efforts to make it as a subject that can increase student interests as well as to improve the teaching-learning process in the classroom among the history teachers. The articles were titled as “Integrated Intelligence Practice to Motivate Low Achievement Students in the History Subject” (by Abdul Razaq Ahmad & Fadzilah Sulaiman); and “Instructional Leadership, Work Motivation, and Work Performance of History Teachers in Sabah, Malaysia” (by Dayang Norizah A.G. Kiflee @ Dzulkifli & Roslee Talip).

Writing the results of historical research and history of education are also related to elements of history in other disciplines. Our standard of living is better as a result of these studies and researches previously conducted. Accordingly, with constant studies and researches, our future life will be more improved than our present life. Likewise, in accordance with the teachings of Islam, today should be better than yesterday and future should be a lot better than today. A progressive and optimistic attitudes of life, will spur one’s work ethic and spirit to live prosper in this world and hereafter. Additionally, “Historia Magistra Vitae” is a solid and strong evidence that proved humans can live better based on their experiences in the past, whether it is good or bad experience. The good ones should be followed as guidelines for future lives and the bad ones can be used as mistakes to avoid.

Last but not least, I hope and believe that researchers and scholars of history and history education from countries around the world, particularly countries in the Southeast Asia region, will be able to utilize the SUSURGALUR journal as a medium to disseminate their latest findings. The formation of AEC or ASEAN (Association of South East Asia Nations) Economic Community in 2015, with the slogan “caring and sharing”, further strengthens our belief as a nation-state in Southeast Asia on the importance of collaboration and healthy, open, safe, prosperous and justly competition in the era of globalization. Please do enjoy reading the SUSURGALUR journal and hopefully you will gain and achieve much benefit from it.

Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam: 24th March 2015.

SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah,
Volume 3(1) Maret 2015


Ketua Umum ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia); dan
Dosen Departemen Pendidikan Sejarah UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Banyak jalan menuju Roma. Begitulah, banyak cara juga agar pelajaran Sejarah di sekolah bisa disajikan secara menarik dan disenangi oleh peserta didik. Dalam buku pelajaran “Sejarah Indonesia”, berdasarkan Kurikulum 2013, diperkenalkan satu pendekatan baru dalam menyajikan materi sejarah, yaitu menggunakan pendekatan “regresif”. Dengan pendekatan ini, materi sejarah yang pertama kali harus diajarkan adalah sejarah kontemporer, yang dekat dan akrab dengan lingkungan kognisi dan pengalaman peserta didik. Setelah mempelajari sejarah “kekinian dan kedisinian”, barulah peserta didik selanjutnya mempelajari sejarah yang lebih lampau dan jauh dari pengalaman peserta didik.

Saya kira, daripada peserta didik di kelas I SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan Kelas I SMA (Sekolah Menengah Atas) itu mempelajari “Homo Wajakensis” dan “Homo Soloensis” ketika pertama kali belajar Sejarah Indonesia, akan lebih baik dan lebih senang belajar “Yudhoyono van Patjitan” dan “Jokowi van Solo” sebagai tokoh-tokoh penting dalam Sejarah Indonesia kontemporer. Baik Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) maupun Jokowi (Joko Widodo) adalah tokoh-tokoh yang sosok dan perannya dikenali dengan baik dan akrab dalam kognisi keseharian peserta didik. Justru, saya sering kelimpungan kalau ditanya oleh anak saya di rumah tentang apa, siapa, dan bagaimana “Phitecantropus Erectus” atau “Megantropus Paleo Javanicus” itu?

Tapi sayang sekali, pendekatan “regresif” dalam pelajaran Sejarah itu tidak populer dan belum terbiasa pada masyarakat Indonesia. Para pakar pendidikan Sejarah pun masih bersitegang urat leher dan mempermasalahkan pendekatan dalam pembelajaran Sejarah yang tidak konvensional itu. Alhasil, sajian materi Sejarah Indonesia kembali ke habitatnya, yakni menggunakan pendekatan kronologis dan konvensional. Akibatnya, sudah bisa diduga, bahwa pelajaran Sejarah di Indonesia, dari dahulu sampai sekarang, adalah benda mati, bukan pelajaran yang menyenangkan, dan berkutat pada hafalan tentang deretan angka-angka tahun, tokoh, dan peristiwa yang membosankan.

Ada seorang sejarawan yang menyatakan bahawa sejarah yang sesungguhnya adalah sejarah kontemporer. Sejarah kontemporer jelas ada keterkaitannya dengan sejarah pada masa lalu; sebab masa kini adalah produk dari masa lalu, dan masa kini pula akan menentukan corak perjalanan sejarah di masa yang akan datang. Materi Sejarah Indonesia kontemporer adalah peristiwa-peristiwa sejarah mutakhir yang jejak-jejaknya masih relatif dekat dan dirasakan kehadirannya oleh kita sekarang.

Ciri dari suatu “genre” sejarah Indonesia kontemporer adalah kompleksitas dari peristiwa dan interpretasinya. Hal itu terjadi bukan saja karena semua dokumen, arsip, dan sumber primer lainnya belum bisa dibuka dan dipelajari oleh umum – dengan demikian belum bisa dilakukan rekonstruksi sejarah secara utuh – tetapi juga karena beberapa tokoh pelaku sejarahnya masih hidup. Hal yang terakhir ini acapkali mengundang perdebatan sejarah yang berkepanjangan, sebab ada beberapa memori kolektif atau pribadi – karena pertimbangan politik dan kekuasaan yang bersifat kekinian – sering ditonjolkan untuk hal-hal yang menyenangkan di satu sisi, dan di sisi lain sengaja diheningkan untuk hal-hal yang kurang menyenangkan. Di sinilah sumber kontroversi itu dimulai.

Adalah menarik untuk dicermati bahwa masalah kontroversi dalam sejarah kontemporer di Indonesia itu mulai muncul pada masa Orde Baru (1966-1998). Sebagai sebuah rejim militer yang terlibat secara intens dalam perjuangan revolusi dan pasca revolusi Indonesia (sejak tahun 1945), pemerintah Orde Baru merasa berhak untuk mendapatkan “saham revolusi” itu dan ditonjolkan peranannya dalam historiografi Indonesia kontemporer. Karena itu, materi sejarah di sekolah yang mengundang kontroversi – sebagaimana nampak dalam buku-buku teks sejarah di sekolah – paling tidak ada 5 hal, yakni: (1) peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta; (2) peristiwa G-30-S tahun 1965; (3) masalah Hari Kesaktian Pancasila tanggal 1 Oktober 1965; (4) peristiwa SUPERSEMAR tahun 1966; dan (5) masalah Integrasi Timor Timur ke Indonesia pada tahun 1976.

Kelima materi sejarah itu dipandang kontroversial oleh para guru di sekolah karena sifatnya yang multi interpretasi. Belum lagi bila ditambah dengan isu-isu kontroversi di era Reformasi, yang demikian banyak peristiwa penting dan rumit pula memahaminya. Guru acapkali bingung untuk menentukan interpretasi yang benar, pasti, dan objetif. Sementara itu pertanyaan-pertanyaan kritis dari siswa menghendaki jawaban yang pasti dan mantap dari para gurunya.

Karena itu agar suasana pembelajaran Sejarah di kelas menjadi hidup dan dinamis, para guru perlu diperkenalkan dengan “model pembelajaran inquiri” sebagai model inovatif dalam pendidikan. Hakikat “inquiri” sebenarnya adalah tidak hanya mau bertanya, tetapi juga mau mencari tahu jawabannya. Dengan begini bukan saja siswa akan bergairah dalam belajar sejarah di satu sisi, namun di sisi lain guru juga telah memperkenalkan model pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan demokratis.

Akhirnya, selamat membaca artikel-artikel dalam jurnal SUSURGALUR yang multi bahasa ini. Semoga ada manfaatnya.

Bandung, Indonesia: 24 Maret 2015.

SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah,
Volume 3(1) Mac 2015


Prof. Madya Dr. Haji Awang Asbol bin Haji Mail
Pensyarah Kanan di Program Pengajian Sejarah dan Antarabangsa, Fakulti Sastera dan Sains Sosial UBD (Universiti Brunei Darussalam); dan Ahli Sidang Pakar ASPENSI di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Dalam prakata kali ini, saya hendak membicarakan tentang “plagiarism”. Perkara ini telah pun saya dedahkan dalam ruang rencana, yang diuar-uarkan oleh website ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) di Bandung, Indonesia, pada 22hb Julai 2012. Saya berpendapat bahawa masalah plagiarism ini serius sangat dan perlu diambilkira oleh sesiapa sahaja yang terlibat dengan aktiviti akademik sebagai satu kerjaya.

Dalam dunia akademik, memplagiat tulisan orang lain tanpa mengubah sebarang perkataan atau gaya bahasa merupakan satu perbuatan yang tidak beretika. Memperakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri, kelihatannya, satu jalan pintas untuk menunjukkan pemelagiat seorang penulis yang proaktif dan produktif. Tetapi pada realitinya, ia adalah seorang yang tidak bermoral dan berpura-pura. Ia sudah tidak amanah dan tidak jujur dengan profesyennya kerana telah melakukan penipuan.

Berdasar pengalaman, saya, sebagai seorang pensyarah, telah mendapati perbuatan plagiat ini dilakukan oleh sebahagian mahasiswa, terutama dalam tugasan semester dan juga latihan ilmiah. Oleh itu, saya terpaksa memberi amaran atau menyuruh menulis semula tugasan mereka. Perbuatan-perbuatan seperti ini wujud di kalangan mahasiswa, kemungkinan ada beberapa faktor yang mendorong mereka mengamalkan plagiarism. Para mahasiswa mungkin kurang faham dengan tajuk tugasan yang diberikan. Oleh kerana malas hendak jumpa pensyarah, maka jalan mudah adalah dengan melakukan plagiat.

Para mahasiswa yang melakukan plagiat, boleh dikatakan, ialah mereka yang malas untuk membaca dan mencari bahan rujukan. Mereka sudah terbiasa dengan disediakan nota yang diwarisi sejak dari bangku sekolah lagi. Selalunya, para mahasiswa membuat tugasan di saat-saat tarikh akhir menghantar tugasan. Jadi, jalan mudah untuk menyiapkan tugasan, ia mengambil sebahagian idea dari bahan-bahan rujukan dan mencampur dengan sedikit idea mereka. Dengan keadaan ini, menjadikan tugasan mereka tidak berkualtiti dan tidak mencapai taraf kajian peringkat universiti. Dengan itu, apabila mereka keluar dari universiti, mereka akan menjadi graduan yang tidak berkualiti pula. Mereka bukan saja tidak dapat menulis tugasan yang berbentuk ilmiah, bahkan menulis laporan dan minit mesyuarat pun mereka tidak boleh.

Selain itu ada juga plagiat yang dilakukan dengan mengambil keseluruhan idea atau tulisan orang lain. Ia telah dilakukan bukan saja di kalangan mahasiswa di peringkat universiti, tetapi juga oleh kaki tangan akademik yang berpangkat Professor. Lazimnya dilakukan ke atas tulisan yang sudah lama atau kajian-kajian yang belum diterbitkan seperti tesis. Sebagai contoh, tulisan yang diterbitkan pada tahun 1980-an, kemudian diterbitkan semula sebagai tulisan sendiri pada tahun 2000. Namun perkara ini akhirnya telah diketahui oleh para ahli akademik, yang memang mempunyai pakar dalam bidang yang diciplak itu.

Berdasarkan pengalaman penulis sendiri, dimana sebahagian dari tulisan tesis sarjana penulis telah diciplak oleh seorang yang tidak bertanggungjawab dan diterbitkan dalam akhbar rasmi kerajaan, “Pelita Brunei”, pada tahun 2002. Penulis telah membuat bantahan kepada sidang pengarang akhbar tersebut dan mereka telah bertindak menghentikan penerbitannya. Plagiat juga dilakukan dengan mengambil tulisan di tempat lain dan kemudian dibawa ke satu tempat tertentu yang difikirkan tempat itu orang tidak akan tahu. Hal ini juga pernah berlaku ke atas tulisan seorang kenamaan ugama Brunei, apabila tulisan beliau telah diterbitkan semula di Malaysia, tanpa nama beliau dimasukkan sebagai penulis asal.

Ledakan teknologi maklumat juga menjadikan kegiatan plagiat semakin mudah dan menjadi-jadi, hingga kadang-kadang sukar dikesan. Oleh itulah universiti-unveristi di United Kingdom mempunya program khas untuk mengesan perbuatan para mahasiswa yang melakukan plagiat dalam tugasan mereka. Perkara ini pun juga sudah dibuat di UBD (Universiti Brunei Darussalam), cuma memperlukan latihan untuk menggunakannya.

Dari pengalaman penulis sendiri, sebagai Ketua Program Pengajian Sejarah di UBD pada tahun 2005, seorang mahasiswa telah melakukan plagiat satu tugas tentang Sejarah Asia Timur. Mahasiswa ini telah menciplak dari internet dan perbuatannya ini telah diketahui oleh pensyarahnya. Ia dapat dikesan kerana tugasan mahasiswa ini, yang ditulis dalam bahasa Inggeris, mempunyai bahasa dan idea yang sempurna, yang tidak mungkin ditulis oleh seorang mahasiswa. Artikel yang diciplak itu telah ditulis oleh seorang sarjana. Jadi, penulis telah memanggil dan memberi amaran kepada mahasiswa yang plagiat tersebut supaya membuat tugasan yang baru. Nampaknya mahasiwa ini masih degil, bahkan melakukan lagi dengan tugasan lain sehingga tiga kali. Akhirnya, mahasiswa ini terpaksa diberhentikan dari universiti.

Akhir sekali, saya difahamkan bahawa sebelum sebuah kertas diterbit dalam jurnal SUSURGALUR ini, penulisnya kena membuat kenyataan bahawa kertas berkenaan bukanlah dapatan daripada amalan plagiarism, belum dinilai, dan belum diterbit pula oleh mana-mana jurnal akademik. Ini adalah satu tindakan preventif untuk menapis dan menyekat amalan plagiarism. Dan saya berharap supaya kertas-kertas yang diterbit dalam jurnal SUSURGALUR ini bukanlah dapatan daripada amalam plagiarism.

Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam: 24hb Mac 2015.

SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah,

Volume 3(1) Maret 2015

Historical Context for Development Virtual Reading Room as an Innovation at the Indonesia Open University’s Library Services.

Imej Telur dan Ayam dalam Masyarakat Melayu Brunei: Hubungannya dengan Folklor dan Sejarah.

Priangan dalam Kehidupan Franz Wilhelm Junghuhn.

Integrated Intelligence Practice to Motivate Low Achievement Students in the History Subject.

Pemilihan Umum, Media Massa, dan Wanita: Pandangan Majalah TEMPO dan GATRA terhadap Megawati Soekarnoputri sebagai Calon Presiden di Indonesia pada Tahun 1999 dan 2004.

Harta Intelektual: Kajian Awal di Negara Brunei Darussalam.

Development of Language Planning Goes to Globalization Era: An Evaluation from the Historical Aspect.

Pengaruh Persepsi dalam Pencapaian Peniaga Cina di Negara Brunei Darussalam.

Konsep Bhinneka Tunggal Ika di Indonesia: Dari Politik Dinasti ke Politik Pendidikan.

Instructional Leadership, Work Motivation, and Work Performance of History Teachers in Sabah, Malaysia.


susur galur 2-2 Sept 2014 2

SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah (Journal of History Education & Historical Studies). This journal, with ISSN 2302-5808, was firstly published on March 24, 2013. Since issue of September 2013, the SUSURGALUR journal has been published by Minda Masagi Press as the publisher owned by ASPENSI (Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung, West Java, Indonesia and jointly organized by the Lecturers of APB UBD (Academy of Brunei Studies, University of Brunei Darussalam) & History and International Studies, Faculty of Arts and Social Sciences UBD in Bandar Seri Begawan, Negara Brunei Darussalam.

SUSURGALUR journal provides a peer-reviewed forum for the publication of thought-leadership articles, briefings, discussion, applied research, case and comparative studies, expert comment, and analysis on the key issues surrounding the history education and historical studies, and its various aspects. Analysis will be practical and rigorous in nature.

SUSURGALUR  journal receives the manuscripts written in English as well as Indonesian and Malay languages. For sending the manuscript(s), encourage you to submit it via e-mail address at: and

Anggota Redaksi Jurnal SUSURGALUR dalam sebuah Acara Silaturahim di rumah Prof. Madya Dr. Haji Awg Asbol bin Haji Mail (duduk paling kiri) di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, pada bulan April 2013. “Kami bertekad untuk menjadikan SUSURGALUR ini sebagai jurnal ilmiah yang bertaraf, baik nasional maupun regional Asia Tenggara”, kata PM Dr. Asbol, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Redaksi Jurnal SUSURGALUR.

Read More