The SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah (Journal of History Education and Historical Studies), with ISSN 2302-5808, was firstly published on March 24, 2013. Since issue of September 2013, it has been organized and sponsored by the Lecturers of APB UBD (Academy of Brunei Studies, University of Brunei Darussalam) and the Lecturers of History Program FASS (Faculty of Arts and Social Sciences) UBD in Bandar Seri Begawan, Negara Brunei Darussalam and published by Minda Masagi Press as one of the publishers owned by ASPENSI (Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung, West Java, Indonesia.

Foreword, Sambutan, dan Prakata

Foreword for
SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah
(Journal of History Education & Historical Studies)
Volume 2(1) March 2014

04.ampuan.ubd

Assoc. Prof. Ampuan Dr. Haji Brahim bin Ampuan Haji Tengah
Editor-in-Chief of the SUSURGALUR Journal; and
Director of APB UBD (Academy of Brunei Studies, University of Brunei Darussalam)

My first and foremost gratitude to Allah SWT (Subhanahu Wa-Ta’ala) for blessing us with the strength to publish the “SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah” (Journal of the History Education and Historical Studies) again, issue of March 2014. As a Southeast Asian regional journal, SUSURGALUR is a platform for the researchers and scholars of history to deliver the results of their studies and researches done on the history, not only in Brunei Darussalam, Indonesia, and Malaysia, but also in other Southeast Asia regions. This makes the SUSURGALUR as a source of the latest information for scholars, students, and the public about the history and history education, and in fact about current affairs of the ASEAN (Association of South East Asian Nations) countries.

As I said that learning of history is to learn about the life experiences of the past that we should be wise in this life. “Historia Magistra Vitae”, history is the teacher of life. By learning from the experiences of the past, we will not repeat the mistakes that happened in the past, to act wisely in the present, and optimistic in looking to the future.

Of course, there are many things that we can get from learning a history. One is that the study of history, then, we will not lose our identity and character as a nation. Nations that do not have an identity, thus, are the nations that forget history. And the only nation that “crazy” are forgetting the past, do not remember who he was, and lose his identity as a nation.

In this context, it is true when Soekarno, the first President of the Republic of Indonesia, in 1960s had stated about JAS MERAH (“Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” or Do Not Leave Occasional History). It is also appropriate when Mahathir Mohamad, the fourth Prime Minister of Malaysia, in the 1990s reminds us of MELUPA (“Melayu Mudah Lupa” or Malay Easy to Forget). Everything looked and advised that we, as a civilized nation, do not forget about our origins, our journey of history, and ultimately our identity, which distinguishes it from other nations in the world.

Although history is important, both in terms of function and role, but in the context of implementation, for example in the learning process in schools, history is often seen as a boring lesson. When we asked to the students in the school about what the teacher in teaching the subject is unattractive and boring, then, surely the answer is a history teacher. Why is that? Because history teacher, said the students, teaching only the row number of years, the names of figures and events are long, and had no relevance to current interests.

That history includes the subject is less attractive to students in schools, both primary and secondary schools, also continues to the tertiary education institution. The number of students at the Department of History, in a college as well as in a university, rarely exceed 50 people. This is contrast to the students in the Department of Science, Technology, Medicine, Economics, and even the Department of Law. A limited number of students of history, of course, implies a number of historians and history educators that be produced by the college or the university. It is common knowledge today that the number of Historians and History Educators in a nation-state could be counted by the fingers alone, because there is indeed a bit.

One purpose of the publication of the SUSURGALUR journal, since the first edition in March 2013, is to generate interest and attention to the History and History Education. By studying and researching the history of the various events, periods, figures, and other areas – one again not only in the context of nation-states like in Brunei Darussalam and in Indonesia, but also in other countries of Southeast Asia, even the world – then, we will gain experiences and lessons of various and interesting.

Finally, I hope and believe that researchers and scholars of history and history education will also be able to utilize the SUSURGALUR journal as a medium to disseminate the latest findings. This would directly and indirectly lifts the credibility of SUSURGALUR journal in the society as a beneficial reading material, particularly as a scholarly journal among academicians nationally, regionally as well as internationally.

Bandar Seri Begawan, 22nd March 2014.

Sambutan untuk
SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah
Volume 2(1) Maret 2014

01.andi.kopiah.bunga

Andi Suwirta, M.Hum.
Ketua Umum ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia); dan
Dosen Jurusan Pendidikan Sejarah UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Pada tahun 2000-an, ketika saya membuat kajian terhadap bukunya Benedict R.O’G. Anderson, seorang Indonesianist terkenal dari Amerika Serikat, yang berjudul “Hantu Komparasi: Nasionalisme, Asia, dan Dunia”, saya menyatakan bahwa kata kunci untuk memahami “nasionalisme” di Asia Tenggara – dan dalam kaitannya dengan Dunia – adalah hantu komparasi atau “the spectre of comparison”. Makna dari kata ini adalah bernuansa jamak. Di satu sisi adalah tragis bahwa para elite terdidik yang mengkreasi nasionalisme di kota-kota besar di tiga negara yang bertetangga (Indonesia, Thailand, dan Philipina) serta jaraknya relatif dekat itu – seperti Jakarta, Bangkok, dan Manila – seolah-olah tidak saling menyapa dan berinteraksi. Mereka lebih banyak mengapresiasi dan mengkomparasi nasionalisme ke kota-kota pusat satelit kolonial mereka di Eropa dan Amerika Serikat yang jaraknya relatif jauh.

Namun di sisi lain – dan ini yang lebih penting dan menarik – bahwa cara mereka memahami dan mengkomparasi nasionalisme itu terlalu simplistis dan dilematis. Sebagaimana ditunjukkan oleh Soekarno di Indonesia ketika memuji-muji Adolf Hitler dalam mengembangkan nasionalisme tanpa harus memahami secara kritis moralitas pemimpin dari Jerman itu di mata masyarakat Barat sendiri.

Bahwa Soekarno, sebagai salah seorang “the founding fathers of Indonesian nation-state”, sering membuat komparasi-komparasi yang sederhana tentang nasionalisme Indonesia – dan akibatnya kurang tepat – sudah umum diketahui. Pandangan triloginya tentang nasionalisme Indonesia – masa lalu yang gemilang, masa sekarang yang suram, dan masa depan yang penuh harapan – bukan saja merupakan “hantu” bagi pihak kolonial Belanda, tetapi juga menciptakan mitos politik tersendiri yang juga, seperti orang percaya pada “hantu”, sukar dihilangkan, yakni bahwa Indonesia telah dijajah oleh Belanda selama 350 tahun.

Memang, Ben Anderson adalah ilmuwan sosial yang serba bisa, terutama dalam kemampuannya berbahasa. Lusinan bahasa ia kuasai dengan baik – mulai dari bahasa Jawa, Indonesia, Thailand, Tagalog, Vietnam, Cina, Spanyol, Belanda, Perancis, Jerman, dan tentu saja Inggris-Amerika – sebagai modal dasar untuk bisa memahami dan menganalis masyarakat yang menjadi objek studinya. Kendati begitu, kritik terhadap Ben Anderson sebagai ilmuwan sosial yang serba bisa juga banyak. Di kalangan sejarawan sendiri, sebagaimana ditunjukkan oleh Taufik Abdullah dan almarhum Sartono Kartodirdjo, dua sejarawan terkenal Indonesia, sampai pada kesimpulan bahwa salah satu tugas utama seorang sejarawan adalah mampu memahami secara benar dan objektif tentang kelampauan, serta berusaha menguji secara kritis keumumam “grand theory” dengan sumber-sumber sejarah yang ada.

Kritik tersebut didasarkan oleh kenyataan bahwa studinya tentang persistensi budaya Jawa dalam politik kontemporer Indonesia pada masa Orde Baru, misalnya, telah menempatkan Ben Anderson sebagai ilmuwan sosial yang hanya mau menggunakan perspektif dengan optik “etnosentrisme budaya Jawa” secara berlebihan dalam memahami realitas sosial Indonesia yang plural. Akhirnya – dengan meminjam petuah ilmiah seorang sejarawan – bahwa tidak mesti pilihan studi, analisis, dan simpulan dari seorang ilmuwan sosial dan kemanusiaan itu didasarkan atas sikap “rasa marah dan berat sebelah”. Sebab jika yang terakhir ini dilakukan akan bermuara pada pengaburan dan pengabaian fakta-fakta sosial yang sebenarnya.

Jurnal SUSURGALUR ini, saya pikir, adalah media yang tepat dan relevan untuk membangun kembali wacana secara kritis terhadap dua fenomena yang saya kemukakan di atas: hasil penelitian seorang ilmuwan dan pernyataan seorang negarawan. Menguji secara kritis hasil-hasil penelitian dan pernyataan seseorang adalah tugas kita semua agar tercipta masyarakat yang cerdas dan beradab. Wawasan yang kritis, objektif, adil, dan seimbang di satu sisi, dengan dibarengi oleh sikap yang tekun, teliti, rajin, dan tetap bersemangat adalah etos kerja seorang ilmuwan yang sejati.

Akhirnya, selamat membaca artikel-artikel dalam jurnal SUSURGALUR ini dengan dibarengi oleh sikap seorang ilmuwan sejati. Semoga ada manfaatnya.

Bandung, Jawa Barat, Indonesia, 23 Maret 2014.

PRAKATA untuk
SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah
Volume 2(1) Mac 2014

03.asbol.ubd

Prof. Madya Dr. Haji Awg Asbol bin Haji Mail
Pensyarah Kanan di Program Pengajian Sejarah, Fakulti Sastera dan Sains Sosial UBD (Universiti Brunei Darussalam); dan Ahli Sidang Pakar ASPENSI di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Dalam sebuah persidangan antarabangsa, yang dianjur oleh ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) di Bandung, pada tahun 2006, saya pernah membuat kenyataan tentang peri pentingnya peranan Sejarah. Sungguhpun relevansi sejarah di zaman ledakan tekonologi maklumat ini semakin diragukan, tetapi mengingati dan memahami sejarah negara-bangsa melalui kepelbagaian kaedah, seperti melalui tulisan, ceramah, kursus, dan seterusnya mengajarkan pendidikan sejarah dari sekolah rendah hingga ke peringkat institusi pengajian tinggi, sebenarnya masih memainkan peranan sebagai pemangkin pembinaan bangsa.

Masa silam yang dihidupkan kembali melalui paparan kajian-kajian sejarah dan kisah-kisah boleh diambil sebagai contoh dan sekaligus sebagai pedoman kepada generasi berikutnya. Tanpa memahami sejarah, atau kurang “sense of history”, agak sukar untuk mengwujudkan kesedaran sejarah di kalangan masyarakat Brunei, lebih-lebih lagi ke atas generasi baru. Mungkin mereka mahir dan berkebolehan dalam menguasai ilmu sains, matematik, dan teknologi maklumat, tetapi mereka tidak tahu siapa dan dari mana asal-usul dan kedudukan mereka.

Kesedaran sejarah, atau “historical consciousness”, diakui sebagai tahap perkembangan penting ke atas daya pemikiran manusia. Kesedaran tentang waktu dan pengalaman masa lampu suatu bangsa merupakan faktor penting dalam memandu arah-tuju dan perjalanan suatu bangsa dalam mengenali jatidiri atau identitinya. Jatidiri bangsa Brunei, sejak zaman sebelum kedatangan Islam sehingga ke negara moden ini, ternyata ia adalah sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang Raja. Selepas kedatangan Islam, jatidiri Brunei dengan amalan sistem beraja terus diwujudkan, tetapi ia sudah berubah kepada senario baru dengan elemen MIB (Melayu, Islam, Beraja) dan telah menjadi jati diri masyarakat Brunei sekarang ini.

Melalui sejarah juga masyarakat Brunei akan dapat memahami peringkat dan proses pembentukan negaranya. Brunei pada awalnya adalah sebuah negara kecil, yang kemudiannya mampu berkembang hingga mempunyai empayar yang luas, seperti mana yang berlaku dalam zaman pemerintahan Sultan Bolkiah dan Sultan Hassan. Maknanya, dalam mempelajari sejarah seperti ini, ia boleh menjadi satu motivasi kepada generasi muda bahawa masyarakat Brunei juga boleh maju dan berkembang setanding dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Dalam pada itu, kejatuhan Brunei, terutama dalam abad ke-19 M, sudah tentu menimbulkan keinsafan dan kesedaran bahawa tidak selama-lamanya sesebuah negara itu berkeadaan gemilang. Oleh itu, ia boleh memberikan pengajaran agar masyarakat Brunei perlunya berwaspada setiap masa dengan perancangan yang teratur dalam mengendalikan negara agar perkara yang menyedihkan itu tidak berulang lagi. Perebutan kuasa politik bukanlah satu penyelesaian kepada masalah negara, tetapi ia boleh menjerumuskan negara kepada kehancuran, seperti mana yang berlaku dalam perang saudara pada abad ke-17 M, tetapi apa yang lebih penting ialah kesepakatan dan perpaduan dalam mempertahankan dan membangun negara.

Adalah juga penting diambil pemerhatian bahawa buku-buku teks yang digunakan dalam pendidikan sejarah di sekolah-sekolah diharapkan menjadi sumber inspirasi yang positif, konstruktif, dan kreatif dalam diri pelajar. Mereka bukan saja dapat memahami sejarah Brunei seperti yang terdapat dalam kurikulum, buku-buku teks dari sekolah rendah hingga menengah rendah yang telah diluluskan oleh kerajaan untuk dilaksanakan pada  tahun 1991 dan menengah atas pada tahun 2000 yang sudah disuntik dengan unsur-unsur “Brunei-Centric”, tetapi juga akan dapat menimbulkan rasa cinta kepada negara, bangsa, agama dan raja, selaras dengan konsep MIB (Melayu, Islam, Beraja).

Akhir sekali, saya berhasrat agar jurnal SUSURGALUR ini boleh memainkan peranan sebagai wadah bagi mencetuskan idea dan pemikiran terbaru, hasil penyelidikan dari para sarjana dalam berbagai bidang disiplin. Sepertimana yang saya kerap nyatakan bahawa dapatan penyelidikan dan idea bernas yang tidak diterbit, ianya setakat menjadi hiasan dan barangan antikuarian sahaja di pusat-pusat sumber sesebuah jabatan pendidikan. Dan ini adalah satu pembaziran, kerana ianya tak dibaca oleh ramai orang.

Bandar Seri Begawan, 24hb Mac 2014. 

Contents
SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah
Volume 2(1) Maret 2014

QASIM AHMAD,
Learning from the Past: A Contentious Issue?

TUTY ENOCH MUAS,
Mengenal Lebih Dekat Triad dan Serikat Rahasia Tiongkok.

SITI NORKHALBI HAJI WAHSALFELAH,
Sejarah Sosio-Budaya Kraftangan di Brunei Darussalam: Barangan Logam dan Kain Tenunan.

HILAL AHMAD WANI & ANDI SUWIRTA,
United Nations Involvement in Kashmir Conflict.

MASAKAREE ARDAE @ NIK MUHAMMAD SYUKRI NIK WAN,
Kesejarahan Ajaran Sifat 20 di Alam Melayu.

LINDA SUNARTI,
Politik Luar Negeri Malaysia terhadap Indonesia, 1957-1976: Dari Konfrontasi Menuju Kerjasama.

ARVIN TAJARI,
Regional Dimension of Malaysia’s Foreign Policy during the Cold War, 1957-1989: A Historical Evaluation.

MAMAN LESMANA,
Teks-teks Humor Politik di Indonesia: Sekedar Hiburan atau Sekaligus Kritikan?

AHMAT ADAM,
Pendidikan Sejarah di Malaysia Dewasa ini: Sejauh Manakah ia Relevan kepada Pembinaan Nasion?

ABOUT THE SUSURGALUR JOURNAL:

susur galur 1-2 september 2013 single

SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah (Journal of History Education & Historical Studies). This journal, with ISSN 2302-5808, was firstly published on March 24, 2013. Since issue of September 2013, the SUSURGALUR journal has been organized and published by Minda Masagi Press as the publisher owned by ASPENSI (Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung, West Java, Indonesia and the Lecturers of APB UBD (Academy of Brunei Studies, University of Brunei Darussalam) and the Lecturers of History Program, Faculty of Letters and Social Sciences UBD in Bandar Seri Begawan, Negara Brunei Darussalam.

SUSURGALUR journal provides a peer-reviewed forum for the publication of thought-leadership articles, briefings, discussion, applied research, case and comparative studies, expert comment, and analysis on the key issues surrounding the history education and historical studies, and its various aspects. Analysis will be practical and rigorous in nature.

SUSURGALUR  journal receives the manuscripts written in English as well as Indonesian and Malay languages. For sending the manuscript(s), encourage you to submit it via e-mail address at: susurgalur.jurnal2013@gmail.com and aspensi@yahoo.com

d.dinner.at.prof.asbol.house

Anggota Redaksi Jurnal SUSURGALUR dalam sebuah Acara Silaturahim di rumah Prof. Madya Dr. Haji Awg Asbol bin Haji Mail (duduk paling kiri) di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, pada bulan April 2013. “Kami bertekad untuk menjadikan SUSURGALUR ini sebagai jurnal ilmiah yang bertaraf, baik nasional maupun regional Asia Tenggara”, kata PM Dr. Asbol, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Redaksi Jurnal SUSURGALUR.

 

Read More